Rabu, 30 Mei 2012

BADRA SANTI


VEDHA BADRA SANTI
Oleh: Lasino

Lantunan gending-gending macapat sudah jarang terdengar dikalangan masyarakat Jawa, kalaupun ada hanya oleh sinden-sinden dalam perhelatan suatu kegiatan kesenian Jawa. Salah satu karya sastra yang dikarang oleh tokoh buddhis yang menggunakan nama samaran Mpu Pandita Santi Badra adalah Vedha Badra Santi suatu karya sastra Buddhis kejawen yang membabarkan Buddha Dharma dengan versi Jawa, sesuai tradisi masyarakat Jawa pada masa Majapahit, dimana agama Buddha adalah salah satu agama besar waktu itu setelah agama Hindu.
Badra Santi pada awalnya menggunakan bahasa Kawi (bahasa Jawa kuno), namun kemudian diubah menggunakan bahasa Jawa kontemporer yang dapat diterima oleh masyarakat saat ini, sebab sekarang masyarakat Jawa mengalami degradasi bahasa. Hal ini bisa dilihat dalam percakapan sehari-hari, tata krama, unggah-ungguh yang semestinya dikembangkan oleh masyarakat Jawa telah pudar, bahasa Jawa kadang telah tidak dikenal oleh anak-anak, mereka menggunakan bahasa beraneka-ragam sesuai bimbingan orangtua atau guru-guru pada satuan pendidikan tempat mereka menuntut ilmu.
Badra Santi aslinya di tulis menggunakan bahasa Jawa Kuno karya Pandito Mpu Santibadra dari Banjarmlati wilayah Talbaya Keraton Lasem saat Kerajaan Majapahit diserbu oleh Prabu Giri Endra Wardana dari Kerajaan Kediri. Mpu Santibadra adalah keturunan Dewi Indu atau Purnama Wulan Ratu Putri Lasem adik kandung Prabu Hayam Wuruk Raja Majapahit.
Kurang lebih tahun 1520, sastra Badra Santi ditulis menggunakan bahasa Jawa baru, disusun dalam Kidung bahasa Kawi ngoko oleh Kangjen Pangeran Tejakusuma atau disebut juga Kyai Ageng Punggur yang merupakan keturunan Santibadra di Semanggi Lasem.  
Selanjutnya Vedha tersebut dilestarikan oleh semua trah keturunan Kangjeng Pangeran Tejakusuma yang masih taat terhadap adat pranatan (peraturan/ tradisi) para leluhur mereka. Mereka yang masih taat terhadap tradisi meliputi trah masyarakat Lasem, tretes, Tempur, Criwik, Sraba, Tengger, Panowan, Ngataka, Ngiri, Dresi, Ngadem, Rembang, Gada, semua wilayah termasuk termasuk Kabupaten Rembang.
Tahun 1983 tercipta gancaran yang diciptakan oleh Raden Panji Kusumasmara dari Lasem wilayah Rembang, dia adalah keturunan trah Kanjeng Pangeran Tejakusuma. Baru pada tahun 1966 Romo Upasakha Pandita (U.P) Ramadharma Reksowardojo, menyusun dalam kidung geguritan bahasa Jawa campuran, tujuannnya adalah supaya bisa dimengerti oleh masyarakat di era modern saat ini. Kemudian dibuat untuk panembrama dalam bentuk Sekar Pangkur Lamba.
Vedha Badra Santi tersebut terdiri dari 27 Bab dan terdiri dari 586 syair yang disusun oleh Romo Upasakha Pandita (U.P) Ramadharma Reksowardojo. Bentuk Badra Santi saat ini yang disusun ulang  terdiri dari:
1.         Purwaka (kata pengantar),
2.         Mangayubagya (sambutan)
3.         Bab I Puji (Pujian) syair 1 sampai 5.
4.         Bab II Jejodohan (Perjodohan) terdiri dari syair 6 sampai 48.
5.         Bab III Anak Turun (Keturunan) syair 49 sampai syair 68.
6.         Bab IV Wong Tuwo (Orang Tua) syair 69 sampai syair 94.
7.         Bab V Sedulur (Saudara) syair 95 sampai syair 108.
8.         Bab VI Kekancan (Persahabatan) syair 109 sampai syair 163.
9.         Bab IX Galang Omah (Mendirikan Rumah) syair 164 sampai syair 178.
10.     Bab X Banda (Harta) syair 179 sampai syair 194.
11.     Bab XI Papan Plemahan (Lokasi Tanah) syair 195 sampai syair 213.
12.     Bab XII Duwe Gawe – Pahargyan (Punya Hajat atau Perayaan) syair 214 sampai syair 225.
13.     Bab III Seni Budaya (Seni Budaya) syair 226 sampai syair 242.
14.     Bab XIV alam Raya (Alam Semesta) syair 243 sampai syair 285.
15.     Bab XV Awak Pribadi (Diri Sendiri) syair 286 sampai syair 364.
16.     Bab XVII Catur Arya Satyani (Empat Kebenaran Mulia) syair 365 sampai syair 368.
17.     Bab XVIII Hasta Arya Marga (Delapan Ruas Jalan Mulia) syair 369 sampai syair 370.
18.     Bab XIX Pangerten Sejati (Pengertian Sejati) syair 371 sampai syair 3390. Bab XX Pikiran Sejati syair 391 sampai syair 431.
19.     Bab XXI pengucap Sejati (Ucapan Benar) syair 432 sampai syair 455.
20.     Bab XXII Pakarti Sejati (Perbuatan Benar) syair 456 sampai syair 487.
21.     Bab XXII Panggawe (Mata Pencaharian) syair 488 sampai syair 515.
22.     Bab XIII Nyambut Gawe Sejati (Pekerjaan Benar) syair 516 sampai syair 544.
23.     Bab XXIV Iktiyar Sejati (Usaha Benar) syair 545 sampai syair 558.
24.     Bab XXV Perhatian Sejati (Perhatian Benar) syair 559 sampai syair 570.
25.     Bab XXVI  Samadhi Sejati syair 571 sampai syair 584.
26.     Bab XXVII panutup (Penutup) syair 585 sampai syair 586.
27.     Bausastra (Kamus).
Demikian rincian Vedha Badra Santi yang disusun ulang oleh Romo Upasakha Pandita (U.P) Ramadharma Reksowardojo dan akan disajikan diblog KKG Agama Buddha   sebagai pengetahuan dan wawasan baru bagi pembaca yang budiman. Penulis sangat mengharapkan komentar saran dan kritik dalam postingan yang akan disajikan per syair dengan penjelasan-penjelasan seperlunya sehingga bagi pembaca yang tidak mengetahui bahasa Jawa akan tertarik akan bahasa Jawa atau tradisi buddhis khususnya yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa dari jaman Majapahit hingga sekarang.

1 komentar:

  1. Selamat pagi semua, semoga hari ini dan kedepannya kita selalu di berikan kesehatan dan kemudahan dalam segala urusan. Amin
    Nah gan kali ini saya cuma mau bilang kalo atrikel agan yang satu ini sangat bagus, saya juga sampe ngiri bacanya. Isinya komplit banget bisa tambah wawasan dan infirmasi juga ni. Saya bisa ga ya bikin artikel sebagus ini. Padat jelas dan pasti Beda banget sama artikel-artikel yang lain. yang ini gak bertele-tele langsung ke inti pembahasannya aja.
    Salut saya sama agan ini. Gimana sih caranya biar artikel saya bisa sebagus ini?
    Tolong jawabannya ya gan. :)

    BalasHapus

TAMBAHKAN KOMENTAR DENGAN :


1. GAMBAR » [img] URL GAMBAR [/img]
2. VIDEO » [youtube] URL VIDEO [/youtube]
3. EMOTICON »

:a :b :c :d :e :f :g :h :i
:j :k :l :m :n :o :p :q :r
:s :t :u :v :w :x :y :z