Minggu, 27 November 2011

Pembagian Alam Menurut Agama Buddha

31 Tingkat Alam Menurut Penghuninya

Setiap agama memiliki cara pandang berbeda mengenai awal dan akhir kehidupan mahkluk yang menghuni alam semesta ini, ada yang berpandangan bahwa bumi ini adalah pusat kehidupan mahkluk dan mengganggap manusia adalalah mahkluk yang paling sempurna dan berhak melakukan apa saja sesuai kebutuhan dan kehendak. Mereka beranggapan bahwa isi seluruh alam semesta ini menjadi milik dan hak mereka, apapun yang dilakukan asal untuk memenuhi kebutuhan manusia dibenarkan, walau menggunakan cara yang tidak benar.   
Buddha membagi alam kehidupan mahluk yang berdiam, sangat berbeda dengan ajaran lain. Alam tiada yang kekal, selalu berubah, mengalami pembentukan, proses perubahan (pelapukan) dan timul kembali. Menurut tingkatnya alam dibagi menjadi 31 Alam kehidupan, namun jika dihitung jumlahnya jumlahnya sangat banyak, sehingga dalam satu tingkatan memiliki jumlah yang banyak bahkan tak dapat dihitung secara logika manusia biasa, walaupun Buddha memiliki kemampuan untuk menghitung secara pasti, namun tidak di babarkan dalam ajaran-Nya, Buddha menganggap hal itu tidak berguna menuju kebahagiaan abadi (Nibbana), hanya akan menimbulkan spekulatif pandangan yang mengakibatkan memiliki pandangan salah. Namun Buddha tidak menyimpan untuk diri sendiri kemampuan pengetahuan tentang tingkat, jumlah dan cara pencapaian alam-alam tersebut, Buddha membabarkan ajaran-Nya sehingga para siswa Buddha dapat menyelaminya sendiri, mengetahui sendiri sesuai Jalan yang telah ditunjukkan-Nya. Berikut tabel alam-alam tersebut:

TABEL ALAM

Alam-alam Kehidupan
Batas Umur
4 – ARUPA LOKA
(Alam Tanpa Bentuk)
4. N’eva Saññã N’ãsaññãyatana
3. Akiñcaññãyatana
2. Viññãnañcãyatana
1. Ãkãsãnañcãyatana
84.000 M.K.
60.000 M.K.
40.000 M.K.
20.000 M.K.
16 – RUPALOKA
(Alam Bentuk)
Catuttha Jhãna Bhümi
Alam Jhãna IV
Suddhavassa >>
Akanittha
Sudassi
Sudassa
Atappa
Aviha
Asaññasatta
Vehapphala
16.000 M.K.
8.000 M.K.
4.000 M.K.
2.000 M.K.
1.000 M.K.
500 M.K.
500 M.K.
Tatiya Jhãna Bhümi
Alam Jhãna III

Subhakinha
Appamãnasubha
Parittasubha
64 M.K.
32 M.K.
16 M.K.
Dutiya Jhãna Bhümi
Alam Jhãna II
Patama Jhãna Bhümi
Alam Jhãna I

Abhassara
Appamãnabha
Parittabha
Maha Brahma
Brahma Purohita
Brahma Parisajja
8 A.K
4 A.K
2 A.K
1 A.K.
½ A.K.
1/3 A.K.
11 – KÃMALOKA
(Alam Nafsu)
7 – Sugati
(Alam Bahagia)
6 – Devaloka >>
(Alam Surga)
Paranimmitavasavatti
Nimmãnarati
Tusita
Yãma
Tãvatimsa
Cãtummahãrãjika
16.000 T.S.
8.000 T.S.
4.000 T.S.
2.000 T.S.
1.000 T.S.
500 T.S
Manussa – Alam Manusia
Tak Terbatas
4 – Dugati (Alam Menderita) >>
Asurayoni
Petayoni
Tiracchãnayoni
Niraya
Tak Terbatas
Tak Terbatas
Tak Terbatas
Tak Terbatas
Triloka
4 ARUPA LOKA (Alam Tanpa Bentuk) + 16 RUPALOKA (Alam Bentuk) +11 KÃMALOKA (Alam Nafsu) = 31 Alam Kehidupan
Keterangan :
M.K.
   = Mahã Kappa
A.K.
    = Asangkheyya Kappa
T.S.     = Tahun Surgawi
Tri loka adalah sebutan lain untuk ketiga alam tersebut, kesunyataannya, tidaklah kekal-abadi. Anggapan bahwa alam setelah manusia mati nanti, baik menuju ke alam menyedihkan maupun membahagiakan adalah kekal-abadi, sangat keliru. Karena, masing-masing alam tersebut mempunyai masa hidup sendiri-sendiri, dan setelah masa waktu untuk hidup di salah satu alam tersebut habis, maka makhluk yang belum mencapai “Arahat” akan melanjutkan hidupnya di alam-alam yang lain. Pembahasan kali ini mengenai satuan waktu hidup dalam alam kehidupan ini. Kemudian, sesi ini hanya akan membahas bagian pertama dari alam Kamaloka, yakni alam-alam menyedihkan (Dugati). 

A. DIMENSI WAKTU
1. Alam Kamaloka
Alam manusia, menggunakan ukuran tahun yang telah diciptakan dan disepakati secara bersama-sama oleh manusia sendiri hingga saat ini, dimana satu hari adalah 24 jam, satu minggu adalah tujuh (7) hari, satu bulan adalah 31 (atau 30) hari, satu tahun adalah 12 bulan. Alam para hantu (Niraya, Peta-yoni, dan Asura-yoni), umumnya berusia lebih panjang daripada usia manusia dan alam hewan (Tiracchana-yoni), bahkan ada yang mencapai jutaan tahun menurut hitungan manusia.
Untuk alam surgawi, yakni alam para dewa yang hidup pada alam Kamaloka ini, maka dimensi waktu disana adalah sebagai-berikut:
a). 50 tahun manusia          = 1 hari 1 malam bagi alam Dewa Catummaharajika
b). 100 tahun manusia        = 1 hari 1 malam bagi alam Dewa Tavatimsa
c). 200 tahun manusia         = 1 hari 1 malam bagi alam Dewa Yama
d). 400 tahun manusia        = 1 hari 1 malam bagi alam Dewa Yusita
e). 800 tahun manusia        = 1 hari 1 malam alam Dewa Nimmanarati
f). 1600 tahun manusia       = 1 hari 1 malam alam Dewa Parinimmitavasavatti
Setelah kita mengetahui dimensi waktu pada masing-masing alam kehidupan pada ketiga-loka tersebut, maka marilah kita membahas masing-masing alam dalam ketiga-loka itu.
2. Alam Rupaloka dan Arupaloka
Pada bab “Alam-Semesta I” saya sudah pernah menyinggung mengenai dimensi waktu yang disebut dengan “Kappa”. Ada tiga macam Kappa, yaitu :
1. Antara Kappa.
2. Asankheyya Kappa.
3. Maha Kappa.
Satu (1) Asankheyya Kappa adalah sama dengan 20 Antara Kappa. Satu (1) Asankheyya Kappa, oleh para sarjana dinyatakan, bila dialjabarkan sama dengan 10 pangkat 14 angka satu (1) diikuti seratus empat puluh (140) angka nol, sehingga lamanya melebihi jumlah jutaan-trilyun tahun. Dan Satu (1) Maha Kappa adalah sama dengan empat (4) Asankheyya Kappa, sehingga 1 Maha Kappa lamanya melebihi maha jutaan-trilyun tahun.
Dimensi waktu yang disebut “Kappa” inilah yang digunakan untuk mengukur umur rata-rata makhluk-makhluk yang terlahir dalam alam Rupaloka dan Arupaloka, yang kesemuanya bisa anda lihat pada “Tabel 31 Alam Kehidupan”.
Dalam rentang perjalanan manusia, sesungguhnya terdapat suatu masa dimana seluruh umat manusia hanya akan mempunyai batas waktu umur rata-rata hingga 10 tahun. Masa ini terjadi ketika moralitas umat manusia sedemikian merosotnya, sehingga umurnya hanya akan bertahan hingga 10 tahun, sesudah itu mati. Masa selang antara batas usia manusia rata-rata 10 tahun lalu naik sampai usia yang panjang sekali hingga mencapai delapan puluh ribu (80.000) tahun, lalu turun kembali hingga batas usia rata-rata menjadi 10 tahun kembali, itu adalah rentang waktu 1 “Antara-Kappa” (Antara satu kappa ke Kappa berikutnya, itulah “Antara-Kappa”).

I. KAMALOKA / KAMADHATU

Yakni alam nafsu-keinginan, tempat keberadaan makhluk-makhluk duniawi. Ada sebelas (11) alam kehidupan yang termasuk didalam Kamaloka ini, yang terbagi dalam dua alam, yaitu: 1).Dugati (Alam-alam menyedihkan), dan, 2).Sugati (Alam Bahagia).
1.) Dugati (Alam-alam menyedihkan)
Dugati terdiri dari empat (4) alam yang kesemuanya merupakan tempat hidup “yang menyedihkan”. Alam ini disebut juga “Empat Alam Kemerosotan” (Apâyabhûmi). Istilah ‘apâyabhûmi’ terbentuk dari tiga kosakata, yakni ‘apa‘ yang berarti ‘tanpa, tidak ada’, ‘aya‘ yang berarti ‘kebajikan’, dan ‘bhûmi‘ yang berarti ‘alam tempat tinggal makhluk hidup’. Apâyabhûmi adalah suatu alam kehidupan yang tidak begitu ada kesempatan untuk berbuat kebajikan. Delapan jenis suciwan tidak akan terlahirkan di alam ini, dan tidak ada satu makhluk pun dalam alam ini yang mampu meraih kesucian dalam kehidupan sekarang. Alam ini juga sering disebut sebagai ‘dugga-tibhûmi‘. Yang menyebabkan suatu makhluk terlahir di alam “Dugati” / empat alam menyedihkan ( disebut juga “apaya-bhumi” ) adalah karena :
1. Tidak pernah Berdana (bersedekah)
2. Tidak menjaga Sila (Moralitas : Setidaknya ada lima Sila yang harus dijaga, yaitu : 1. Tidak membunuh makhluk hidup apapun juga (termasuk binatang) , 2. Tidak mengambil barang yang tidak diberikan, 3. Tidak berbuat sex yang menyimpang/ tidak seharusnya (perilaku cabul, perzinahan, dll). 4. Tidak berucap dusta, 5. Tidak meminum minuman/ obat-obatan yang menyebabkan lemahnya kesadaran (yang memabukkan, seperti narkoba, extasy, minuman keras / beralkohol, dll.)
3. Tidak pernah mempunyai rasa hormat kepada orang-orang lain.

‘Duggati’ terbentuk dari dua kosakata, yakni ‘du‘ yang berarti ‘jahat, buruk, sengsara’, dan ‘gati‘ yang berarti ‘alam tujuan bagi suatu makhluk yang akan bertumimbal lahir’. Duggatibhûmi adalah suatu alam kehidupan yang buruk, menyengsarakan. Walaupun kerap dipakai se-bagai suatu padanan, duggatibhûmi sesungguhnya tidaklah sama persis cakupannya dengan apâyabhûmi. Apâyabhûmi terdiri atas empat alam, yakni:
a). Niraya (Ni + aya ; tanpa kebahagiaan )/ Neraka ( Sanskerta)
Yaitu alam keberadaan yang menyedihkan, tempat para makhluk menebus Kamma buruk mereka. Manusia yang dalam hidupnya cenderung kearah penganiayaan makhluk hidup, membunuh makhluk hidup apapun juga, dan senantiasa terjerembab dalam tindakan-tindakan jahat yang dilakukan baik oleh pikiran, ucapan, dan perbuatan, maka ia akan terlahir dialam Niraya ini.
Sesungguhnya, anggapan bahwa neraka adalah tempat hidup yang kekal abadi bagi semua makhluk yang selama masa hidup sebelumnya banyak berbuat karma buruk, adalah keliru. Tidak ada yang kekal-abadi, termasuk didalam neraka sekalipun. Setelah habisnya Kamma buruk yang menyebabkan mereka “tercebur” kedalam alam penuh derita ini ( sama-sekali tidak ada kesenangan, hanya derita yang ada ), makhluk-makkhluk yang hidup dialam ini akan lahir kembali dalam alam-alam lain sesuai timbunan kamma-kamma mereka sendiri, yang telah mereka pupuk selama ribuan tahun rentang pengembaraannya dalam samsara.
Dikisahkan bahwa Mallikâ, yang pernah melakukan perzinahan dengan seekor anjing, berada dalam alam neraka hanya dalam waktu tujuh hari. (Mallikâ adalah permaisuri kesayangan Raja Pasenadi Kosala). Atas kematiannya, raja bertanya kepada Sang Buddha ke alam manakah gerangan istrinya terlahirkan kembali. Beliau tidak menjawab meskipun ditanya setiap hari selama seminggu penuh karena khawatir kalau raja akan bersedih hati mengetahui penderitaan yang harus ditanggung oleh Mallikâ. Baru setelah Mallikâ keluar dari neraka Avîci dan terlahirkan kembali di Surga Tusita, Beliau memberikan jawaban. Tidaklah ‘adil’ untuk menjebloskan suatu makhluk sepanjang hidup (selamanya) dalam neraka hanya karena suatu kejahatan yang pernah dilakukannya dengan mengabaikan semua kebajikannya dan tanpa memberi peluang sedikit pun untuk memperbaiki kehidupannya. Neraka bukanlah suatu tempat pelampiasan kesewenang-wenangan suatu Pencipta Adikodrati yang murkah karena diabaikan atau dikhianati oleh makhluk-makhluk ciptaannya.
Neraka terbagi menjadi dua bagian, yaitu: 1. Neraka Besar (Mahâ-niraya), 2. Neraka Kecil (Ussadaniraya). Neraka besar terdiri atas delapan alam:
1.       Sañjîva
Alam kehidupan bagi makhluk yang secara bertubi-tubi dibantai dengan pelbagai senjata; begitu mati langsung terlahirkan kembali di sana secara berulang-ulang hingga habisnya akibat kamma yang ditanggung. Mereka yang suka mempergunakan kekuasaan yang dimiliki untuk menyiksa makhluk lain yang lebih lemah atau rendah kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.
2.       Kâïasutta
Alam kehidupan bagi makhluk yang dicambuk dengan cemeti hitam dan kemudian dipenggal-penggal dengan parang, gergaji dan sebagainya. Mereka yang suka menganiaya atau membunuh bhikkhu, sâmaóera atau pertapa; atau para bhikkhu-sâmaóera yang suka melanggar
vinaya kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.
3.       Sanghâta
Alam kehidupan bagi makhluk yang ditindas hingga luluh lantak oleh bongkahan besi berapi. Mereka yang tugas atau pekerjaannya melibatkan penyiksaan terhadap makhluk-makhluk lain, misalnya pemburu, penjagal dan lain-lain kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.
4.       Dhûmaroruva
Alam kehidupan bagi makhluk yang disiksa oleh asap api melalui sembilan lubang dalam tubuh hingga menjerit-jerit kepengapan. Mereka yang membakar hutan tempat tinggal binatang; atau nelayan yang menangkap ikan dengan mempergunakan racun dan sebagainya kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.
5.       Jâlaroruva
Alam kehidupan bagi makhluk yang diberangus dengan api melalui sembilan lubang dalam tubuh hingga meraung-raung kepanasan. Mereka yang suka mencuri kekayaan orangtua atau barang milik bhikkhu, sâmaóera atau pertapa; atau mencoleng benda-benda yang dipakai untuk pemujaan kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.
6.       Tâpana
Alam kehidupan bagi makhluk yang dibentangkan di atas besi membara. Mereka yang membakar kota, vihâra, sekolahan dan sebagainya kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.
7.       Patâpana
Alam kehidupan bagi makhluk yang digiring menuju puncak bukit membara dan kemudian dihempaskan ke tombak-tombak terpancang di bawah. Mereka yang menganut pandangan sesat bahwa pemberian dâna tidak membuahkan pahala, pemujaan kepada Tiga Mestika tidak berguna, penghormatan kepada dewa tidak berakibat, tidak ada akibat dari perbuatan baik maupun buruk, ayah-ibu tidak berjasa, tidak ada kehidupan sekarang maupun mendatang, dan tidak ada makhluk yang terlahirkan dengan seketika kebanyakan akan terlahirkan di alam ini.
8.       Avîci
Alam kehidupan bagi makhluk yang direntangkan dengan besi membara di empat sisi dan dibakar dengan api sepanjang waktu. Mereka yang pernah melakukan kejahatan terberat, yakni membunuh ayah, ibu atau Arahanta, melukai Sammâsambuddha, atau memecah-belah pasamuan Saõgha niscaya akan terlahirkan di alam ini. Avîci kerap diang-gap sebagai alam kehidupan yang paling rendah.
Neraka kecil terdiri atas delapan alam:
1. Angârakâsu: Alam neraka yang terpenuhi oleh bara api
2. Loharasa: Alam neraka yang terpenuhi oleh besi mencair
3. Kukkula: Alam neraka yang terpenuhi oleh abu bara
4. Aggisamohaka: Alam neraka yang terpenuhi oleh air panas
5. Lohakhumbhî: Alam neraka yang merupakan panci tembaga
6. Gûtha: Alam neraka yang terpenuhi oleh tahi membusuk
7. Simpalivana: Alam neraka yang merupakan hutan pohon ber-duri
8. Vettaranî: Alam neraka yang merupakan air garam berisi duri rotan

b).Tiracchana-yoni ( tiro=melintasi;acchana=pergi )
Ini adalah dunia para hewan. Makhluk-makhluk dilahirkan sebagai binatang-binatang karena Kamma buruk mereka. Setelah masa hidupnya habis, binatang-binatang ini akan lahir dialam-alam lain, misalnya di alam manusia, jika mereka mempunyai Kamma yang cukup untuk itu.
Dengan pengertian lain, binatang disebut Tiracchâna karena merintangi jalan menuju pencapaian Jalan dan Pahala. Binatang sesungguhnya tidak mempunyai alam khusus milik mereka sendiri melainkan hidup di alam manusia. Binatang memiliki hasrat untuk menikmati kesenangan inderawi serta berkembang-biak; naluri untuk mencari makan, bersarang, dan sebagainya; dan perasaan takut mati, mencintai kehidupannya. Binatang tidak mempunyai kemampuan untuk membedakan kebajikan dari kejahatan, kebenaran dari kesesatan, dan sebagainya (dhammasaññâ, conscience) kecuali kalau terlahirkan sebagai calon Buddha (bodhisatta) yang sedang memupuk kesempurnaan. Bodhisatta tidak akan terlahirkan sebagai binatang yang lebih kecil dari burung puyuh [semut misalnya] atau lebih besar dari gajah [dinosaurus misalnya].
Sebenarnya, Kamma yang mewujudkan dirinya dalam bentuk seorang manusia bisa juga mewujudkan dirinya dalam bentuk seekor binatang, demikian juga sebaliknya, sebagaimana halnya arus listrik yang dapat mewujudkan dirinya dalam bentuk : sinar, panas, dan gerakan secara berturutan; dalam hal ini, yang satu tidak perlu merupakan perkembangan lebih lanjut dari yang lainnya.
Sebagai contohnya, seorang manusia yang dalam masa hidupnya mengalami masa-masa dimana ia bertingkah laku bagaikan hewan, tidak mempunyai kebajikan, kesadaran / kecerdasan moral, hanya mengumbar hawa nafsu sexual dan nafsu-nafsu biadabnya, maka sesungguhnya ia tak ubahnya sebagai “binatang”, meski wujudnya saat itu adalah manusia. Kemudian karena kamma buruknya ia selama hidup memperoleh makanan dari mencuri, mengais-ngais ditempat sampah, saat itupun ia tak ubahnya bagai binatang. Bila kita mempunyai teman, saudara, yang mempunyai cara hidup demikian, sebaiknya kita membimbingnya kearah yang baik dan benar. Sesungguhnya, alam kehidupan itu adalah “kondisi-batin”. Tak perlu menunggu mati baru bisa tahu ia terlahir dimana, hanya dengan melihat kondisi batinnya, ia akan tahu, saat itu ia hidup dialam mana.
Binatang mempunyai banyak jenis yang tak terhitung jumlahnya, namun secara garis besarnya dapat dibedakan menjadi Empat Macam, yakni:
1. Yang tak berkaki seperti ular, ikan, cacing dan lain-lain (apada),
2. Yang berkaki dua seperti ayam, bebek, burung dan lain-lain (dvipada),
3. Yang berkaki empat seperti gajah, kuda, kerbau dan lain-lain (catuppada),
4. Yang berkaki banyak seperti kelabang, udang, kepiting dan lain-lain (bahuppada).
Dalam pandangan Kristen serta agama-agama “Ketuhanan” lainnya, semua binatang akan musnah setelah kematian. Binatang dianggap tidak mempunyai roh. Binatang hanya diakui memiliki naluri (instinct), tanpa akal budi. Karena itu, mereka tidak perlu mempertanggung-jawabkan perbuatan mereka. Kebahagiaan maupun penderitaan yang dialami bukan ditentukan oleh perbuatan mereka baik dalam kehidupan sekarang maupun kehidupan kehidupan yang lampau; melainkan merupakan wewenang serta kehendak Tuhan. Binatang diciptakan semata-mata untuk kepentingan umat manusia yang lebih luhur. Tidak ada surga maupun neraka bagi binatang. Ini menimbulkan dilemma bagi umat Kristen yang menginginkan agar binatang peliharaannya dapat hidup bersama lagi di surga sebagaimana di bumi.
c). Peta-yoni ( pa+ita ).
Secara harafiah, artinya adalah makhluk-makhluk yang telah meninggal, atau makhluk-makhluk yang sama sekali tanpa kebahagiaan. Mereka bukan arwah atau setan yang tidak berwujud. Mereka memiliki bentuk tubuh yang cacat yang besarnya bermacam-macam, pada umumnya tidak terlihat dengan mata telanjang. Mereka tidak memiliki alam sendiri, tetapi tinggal di hutan-hutan, lingkungan yang kotor, didalam rumah-rumah kosong, dan lain-lain.
Alam Setan ‘Peta‘ terbentuk atas dua kosakata, yaitu ‘pa‘ yang berarti ‘ke depan, menyeluruh’, dan ‘ita‘ yang berarti ‘telah pergi, telah meninggal’. Berbeda dengan makhluk yang berada di alam neraka yang menderita karena tersiksa, peta atau setan hidup sengsara karena kelaparan, kehausan dan kekurangan. Kejahatan yang membuat suatu makhluk terlahirkan sebagai setan ialah pencurian, dan karma-karma buruk lainnya. Seperti binatang, setan tidak mempunyai alam khusus milik mereka sendiri. Mereka berada di dunia ini dan bertinggal di tempat-tempat seperti hutan, gunung, tebing, lautan, kuburan, dan sebagainya. Beberapa jenis setan mempunyai kemampuan untuk menyalin rupa dalam wujud seperti dewa, manusia, pertapa, binatang, atau hanya menampakkan diri secara samar-samar seperti bayang-bayang gelap dan lain-lain.
Setan terbagi menjadi empat jenis, yakni:
1. Yang hidup bergantung pada makanan pemberian orang lain dengan cara penyaluran jasa dan sebagainya (paradattupajîvika),
2. Yang senantiasa kelaparan, kehausan dan kekurangan (khuppîpâsika),
3. Yang senantiasa terberangus (nijjhâmataóhika),
4. Yang tergolong sebagai iblis atau makhluk yang suram (kâlakañcika).
Jenis yang pertama itu dapat menerima pelimpahan jasa karena mereka bertempat tinggal di sekitar atau di dekat manusia, sehingga dapat mengetahui pemberian ini dan beranumodanâ [menyatakan kebahagiaan atas kebajikan yang diperbuat oleh makhluk lain]. Apabila mereka tidak tahu kalau ada pelimpahan jasa dan tidak beranumodanâ, pelimpahan jasa ini tidak dapat diterima. Orang yang pada saat-saat menjelang kematian mempunyai kemelekatan yang amat kuat pada kekayaan, harta benda, sanak-keluarga, dan sebagainya niscaya akan terlahirkan di alam setan ini.
Dalam Vinaya dan Lakkhaóa-samyutta, disebutkan adanya 21 macam setan, yaitu:
1. Yang hanya bertulang tanpa daging (aööhisaõkha-sika),
2. Yang hanya berdaging tanpa tulang (maõsapesika),
3. Yang berdaging benjol (maõsapióòa),
4. Yang tak berkulit (nicchavirisa),
5. Yang berbulu seperti pisau (asiloma),
6. Yang berbulu seperti tombak (sat-tiloma),
7. Yang berbulu seperti anak panah (usuloma),
8. Yang berbulu seperti jarum (sûciloma),
9. Yang berbulu seperti jarum jenis kedua (duti-yasûciloma),
10. Yang berpelir besar (kumbhaóòa),
11. Yang terbenam dalam tahi (gûthakûpanimugga),
12. Yang makan tahi (gûthakhâdaka),
13. Yang berjenis betina tanpa kulit (nicchavitaka),
14. Yang berbau busuk (duggandha),
15. Yang bertubuh bara api (ogilinî),
16. Yang tak berkepala (asîsa),
17. Yang berperawakan seperti bhikkhu,
18. Yang berperawakan seperti bhikkhunî,
19. Yang berperawakan seperti calon bhikkhunî (sikkhamâna),
20. Yang berperawakan seperti sâmanera,
21. Yang berperawakan seperti sâmanerî.
Sementara itu, Kitab Lokapaññatti serta Chagatidîpanî menyebutkan adanya 12 macam setan, yaitu:
1. Yang makan ludah, dahak dan muntahan (vantâsikâ),
2. Yang makan mayat manusia atau binatang (kuópâsa),
3. Yang makan tahi (gûthakhâdaka),
4. Yang berlidah api (ag-gijâlamukha),
5. Yang bermulut sekecil lubang jarum (sûcimukha),
6. Yang terdorong keinginan tiada habis (taóhaööita),
7. Yang bertubuh hitam pekat (sunijjhâmaka),
8. Yang berkuku panjang dan runcing (satthaõga),
9. Yang bertubuh sangat besar (pabbataõga),
10. Yang bertubuh seperti ular piton (ajagaraõga),
11. Yang menderita di siang hari tetapi menikmati kesenangan surgawi di malam hari (vemânika),
12. Yang memiliki kesaktian (mahiddhika).

d).Asura-yoni
Ini adalah Alam Iblis ‘Asurakâya‘.‘Asurakâya‘ terbentuk atas tiga kosakata, yaitu ‘a‘ yang merupakan unsur pembalik, ‘sura‘ yang berarti ‘cemerlang, gemilang’, dan ‘kâya‘ yang berarti ‘tubuh’. Namun, yang dimaksud dengan ‘tak cemerlang’ di sini bukanlah tidak adanya cahaya yang memancar dari tubuh, melainkan suatu kehidupan yang merana dan serba kekurangan sehingga membuat batin tidak berceria.
Istilah ‘asura’ juga berasal dari kisah kejatuhan dari Surga Tâvatimsa [terkalahkan oleh Sakka dan pengikutnya] akibat minuman memabukkan (surâ).  Asurakaya adalah alam Iblis penentang Dewa. Mereka senantiasa menebarkan “peperangan” terhadap para Dewa. Karena sebelumnya pernah bertinggal di alam kedewaan, asurakâya kadangkala juga disebut sebagai ‘pubbadevâ‘.
Kisah ini serupa dalam kisah Kekristenan mengenai kejatuhan LUCIFER dari alam para Malaikat ( Surga ) dan kemudian Lucifer dan para pengikutnya menjadi penentang Tuhan. Sangat serupa penggambaran tentang “peperangan di surga” antara Lucifer dengan para malaikat Tuhan, dimana Saint Michael berperan sebagai salah satu malaikat Tuhan yang turut “mengalahkan” Lucifer. Mengapa kisah ini bias sama ? Karena sesungguhnya yang dikisahkan adalah “sama”. Sehingga yang dimaksud oleh Kekristenan kisah “peperangan di surga” antara Lucifer dan para pengikutnya melawan Tuhan dan para malaikatnya, adalah kisah peperangan antara Asura dengan Dewa Sakka dan para pengikutnya.
Asurakâya atau iblis terbagi menjadi tiga macam, yaitu:
1. Iblis berupa dewa(deva-asurâ)
2. Iblis berupa setan (peti-asurâ),
3. Iblis berupa penghuni neraka (niraya-asurâ).
Deva-asurâ terdiri atas vepacitti, râhu, subali,pahâra, sambaratî, dan vinipâtika. Peti-asurâ terdiri atas kâlakañcika,vemânika, dan âvuddhika. Niraya-asurâ hanya terdiri atas satu jenis, yaitu yang menderita kelaparan dan hidupnya bergelantungan seperti kelelawar.
Demikian penjelasan mengenai alam-alam Dugati / Apayabhumi. Mungkin sekilas perlu saya tambahkan penjelasan mengenai alam-alam dugati tersebut. Pada alam niraya / neraka, disana sama sekali tidak ada kebahagiaan. Makhluk-makhluk niraya / neraka hidup menderita. Beberapa pengalaman “perjalanan” saya, di alam niraya ini, ada makhluk yang senantiasa terbakar api, terbelenggu, meratap, menangis. Seumur hidup mereka dialam niraya ini hanya merasakan siksaan demi siksaan, baik batin maupun jasmani. Ada yang bertubuh cacat, mata “kiwir-kiwir” keluar dari mangkuknya, perut bolong, dan lain-lainnya.
Karena itulah, maka sebaiknya saya sarankan, kita harus senantiasa berdoa, melakukan pelimpahan jasa, kepada leluhur kita. Siapa tahu, meskipun beliau dulunya dikenal “baik” oleh masyarakat, terkenal, bahkan orang sakti dan linuwih sekalipun, sekarang ini bisa-bisa berada di alam niraya ini, karena ternyata, dibalik itu semua, tersimpan “amal-amal” perbuatan buruknya. Keberadaan seseorang di suatu alam tidak ditentukan dari ketenarannya, kesaktiannya, kesupelannya / keluwesannya bermasyarakat, bahkan anggapan bahwa ia “utusan-Tuhan” sekalipun, tapi lebih kepada perilakunya, pikiran, ucapan, dan perbuatannya, jika benar, bajik, lurus, bersih, maka tidak akan terlahir di alam kesengsaraan ini.
Tapi meskipun semasa hidup sebagai manusia ia adalah orang terkenal, berharta melimpah, mempunyai kesaktian, dan mengklaim diri sebagai “utusan Tuhan” , “kekasih Tuhan”, namun disisi lain ia suka mengumbar nafsu sexualnya ( berpoligami sampai mempunyai istri satu lusin atau lebih misalnya ),  berbohong, menipu, berperang, membunuh tak segan menganiaya makhluk hidup ( termasuk binatang, maka Sang Buddha melarang pengikutnya untuk melukai makhluk hidup / meneteskan darah makhluk hidup, a p a p u n a l a s a n n y a, karena, itu termasuk karma buruk. Meskipun kita hanya “urun” duit / uang, kemudian menyuruh orang lain untuk membeli hewan2 tertentu, untuk kemudian disembelih oleh tukang jagal, dan meskipun itu dibagi-bagikan kepada masyarakat, itu tetaplah karma buruk ) , intinya, semua pikiran, ucapan, perbuatan banyak dinodai perbuatan-perbuatan tidak baik, maka ia bisa saja terlahir dialam ini, untuk menebus karma-karma buruknya. Terutama, jika saat kematiannya ia menderita, ketakutan, shock, mati mendadak, mati tidak wajar dan merana,  maka besar kemungkinan ia segera terlahir di alam ini. Pikiran terakhirlah yang akan menjadi “Gati-nimitta” ; lambang-tujuan alam kelahiran berikutnya. Para pembunuh, penjahat kemanusiaan / penyebar perang, penyiksa binatang-binatang, orang-orang yang bersifat aniaya, dan “kriminil-kriminil” lain terlahir di alam ini. Panjang atau pendek umurnya di alam niraya tergantung berat ringannya kamma-kamma buruk yang ia lakukan. Semakin berat, semakin lama ia akan “mendekam” di penjara ini.
Pada alam Peta dan Asura, makhluk-makhluknya senantiasa kekeringan, kehausan, kepanasan. Kuntilanak, makhluk2 cebol, setengah manusia setengah hewan, siluman, dan lain-lain sejenisnya, mereka hidup di alam ini. Banyak orang yang bisa membuktikan keberadaannya. Saya sendiri sudah sangat sering melihat, dan menjadi hal biasa saja, bukan hal istimewa. 
Makhluk-makhluk alam kesengsaraan ini, baik yang dialam niraya/neraka maupun peta dan asura, paling suka dan akan sangat berterima kasih jika kita melakukan pelimpahan jasa kepadanya, seperti misal : mendoakan, memberi petunjuk jalan hidup yang benar, menentramkan hatinya. Saya, sebelum memulai samadhi, senantiasa melakukan ini, membacakan “paritta” untuk mereka, supaya hatinya tentram, tahu bagaimana memperbaiki diri, menuju kehidupan yang lebih baik dan bahagia. 

silahkan di copy, tapi cantumkan sumbernya sebagai etika seorang penulis, jangan lupa beri komentar

Comments :

0 komentar to “Pembagian Alam Menurut Agama Buddha”


Poskan Komentar